Dalam beberapa waktu terakhir, isu internal yang melibatkan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) semakin hangat diperbincangkan. KH Mohammad Hasib Wahab Chasbullah, yang akrab disapa Gus Hasib, sebagai putra dari salah satu pendiri, telah mengeluarkan pernyataan mengajak untuk melakukan islah atau perdamaian terkait dengan risalah rapat Syuriyah yang berkembang secara digital.
Risalah tersebut berisi tuntutan pemberhentian Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, yang mengejutkan banyak pihak. Gus Hasib menekankan bahwa dalam lingkungan NU tidak dikenal praktik pemecatan ketua umum, dan berpendapat bahwa situasi ini harus diselesaikan dengan pendekatan dialog yang konstruktif.
Ia menyesalkan informasi yang beredar tanpa kejelasan, yang justru dapat memperkeruh suasana. Dalam pandangannya, kesempatan untuk melakukan “tabayun” atau klarifikasi sangat penting dalam situasi seperti ini agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih jauh.
Konflik Internal di Nahdlatul Ulama: Apa yang Terjadi?
Polemik mengenai pemecatan Gus Yahya bermula dari rapat yang diadakan tanggal 20 November 2025. Dalam rapat tersebut, yang dihadiri 37 dari 53 pengurus harian Syuriyah, beberapa isu internal yang berkaitan dengan NU dibahas secara mendalam.
Setelah rapat berlangsung, risalah yang ditandatangani oleh Rais Aam PBNU mengeluarkan sebuah permintaan untuk pengunduran Gus Yahya dari posisi ketua. Tentu saja, hal ini mengundang reaksi beragam dari berbagai kalangan di internal NU.
Menariknya, dalam hasil rapat tersebut, banyak di antara anggota yang memberi masukan tetapi tidak menyepakati cara pemecatan yang tidak lazim. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi sekelas NU seharusnya lebih mengedepankan musyawarah sebelum menjatuhkan keputusan yang serius.
Pentingnya Musyawarah dalam Organisasi Keagamaan
Gus Hasib menyatakan bahwa musyawarah adalah kunci untuk menyelesaikan masalah secara damai. Ia menegaskan perlunya melibatkan kiai sepuh dalam dialog, mengingat mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni dalam mengatasi isu-isu seperti ini.
Musyawarah dalam konteks NU bukan hanya sebuah rutinitas, tetapi merupakan sebuah tradisi yang sangat berharga. Dengan terbuka terhadap masukan dari semua pihak, diharapkan keputusan yang diambil bisa lebih bijaksana dan diterima oleh seluruh anggota.
Selain itu, Gus Hasib juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan antar anggota, mengingat NU merupakan rumah besar bagi umat Islam di Indonesia. Dalam pandangan beliau, konflik-seperti ini hanya akan memperlemah posisi NU di mata masyarakat.
Risalah Rapat yang Menjadi Kontroversi
Salah satu hal yang memicu perdebatan adalah adanya risalah rapat yang beredar tanpa adanya tanda tangan resmi dari Katib Aam PBNU. Gus Hasib menekankan bahwa dalam prosedur resmi, sebuah dokumen penting seharusnya dilengkapi dengan tanda tangan sebagai legitimasi.
Hal ini menimbulkan keraguan di antara pengurus dan anggota NU, apakah keputusan yang diambil benar-benar sah dan sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Praktik semacam ini dapat dilihat sebagai celah yang harus ditutup agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Penting bagi organisasi untuk menjaga kredibilitasnya, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu yang menyangkut keputusan krusial. Dengan membuat prosedur yang jelas, seharusnya kontroversi seperti ini bisa dihindari.
Menuju Penyelesaian yang Damai untuk NU
Gus Hasib mengajak semua pihak untuk mengambil langkah maju dan berbicara dari hati ke hati, demi tercapainya solusi. Dia percaya bahwa sebagai keturunan pendiri, para generasi baru harus menjadi jembatan dalam menyelesaikan permasalahan ini.
Dia juga menekankan bahwa untuk mencapai islah, diperlukan keterlibatan banyak elemen, termasuk para kiai sepuh yang sudah berpengalaman. Dengan saling mendengarkan, diharapkan nuansa harmoni dapat tercipta kembali dalam organisasi.
Dengan langkah-langkah yang tegas dan kolaboratif, masa depan NU diharapkan bisa lebih cerah dan membawa semangat kebersamaan di antara anggotanya. Mengingat keberadaan NU yang telah terjalin puluhan tahun, konflik internal haruslah menjadi pelajaran berharga agar kedepannya bisa memperkuat jalinan persaudaraan di kalangan anggota.















