Tekanan ekonomi yang semakin dirasakan oleh kelas menengah sekarang bukan hanya sekadar keluhan individu, melainkan merupakan sebuah kenyataan yang tercermin dalam data. Pada banyak kesempatan, generasi Milenial dan Gen Z merasa bahwa impian seperti menikah, memiliki anak, membeli rumah, atau sekadar membeli mobil baru semakin sulit terjangkau.
Standar hidup yang sebelumnya dianggap stabil, kini berubah menjadi sumber kecemasan finansial bagi banyak keluarga. Tidak jarang, dampak dari tekanan ekonomi ini menyentuh berbagai aspek penting dalam kehidupan sehari-hari, memengaruhi pengeluaran hingga keputusan-hidup jangka panjang.
Selaras dengan perubahan ini, satu laporan terbaru mengindikasikan bahwa lonjakan biaya hidup, stagnasi pendapatan, dan perbedaan geografis berkontribusi pada kaburnya definisi ‘kelas menengah’. Apa yang dulunya dianggap normal bagi rumah tangga berpenghasilan menengah kini justru terasa seperti kemewahan.
Perubahan Nyata dalam Kehidupan Kelas Menengah Saat Ini
Perubahan situasi ini menyiratkan suatu pertanyaan yang lebih besar, yaitu seberapa layakkah kehidupan kelas menengah bisa diwujudkan di tengah berbagai tantangan ekonomi saat ini? Mengingat fakta bahwa sejarah telah menciptakan gambaran berbeda mengenai kelas menengah.
Pada era pasca Perang Dunia II, kelas menengah biasanya diidentikkan dengan pekerjaan yang stabil, kepemilikan rumah dengan satu sumber pendapatan, serta kemampuan untuk membesarkan anak tanpa adanya tekanan finansial yang berlebihan. Namun, kondisi ini kini lebih sulit dicapai.
Pew Research Center, sebagai salah satu otoritas dalam pengukuran sosial, mendefinisikan kelas menengah sebagai rumah tangga dengan pendapatan antara dua pertiga hingga dua kali lipat dari median nasional. Namun, angka ini perlu disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal, sehingga gambaran kelas menengah bisa berbeda-beda di setiap tempat.
Faktor Ekonomi yang Mempengaruhi Kelas Menengah
Dalam iklim ekonomi saat ini, ada berbagai faktor yang membuat kehidupan semakin sulit bagi kelas menengah. Salah satu faktor terbesar adalah lonjakan harga-harga yang tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima.
Di Amerika Serikat, misalnya, harga median rumah yang awalnya sekitar US$164.000 pada tahun 2012, kini meroket menjadi US$357.275 pada tahun 2026. Kenaikan harga ini jauh lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan yang hanya meningkat sekitar 2,1 kali lipat selama periode yang sama.
Biaya membesarkan anak juga mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2000, total biaya yang diperlukan untuk membesarkan seorang anak sekitar US$165.630, namun pada tahun 2025, angka tersebut meloncat menjadi US$414.000. Kenaikan yang drastis ini turut menyumbang beban yang harus ditanggung oleh keluarga.
Kesimpulan Mengenai Kelas Menengah di Masa Kini
Meskipun proporsi kelas menengah semakin menurun, mereka belum sepenuhnya menghilang dari peta ekonomi. Banyak rumah tangga yang secara teknis masih memenuhi kriteria pendapatan kelas menengah, namun merasakan keterpurukan akibat utang, biaya perumahan, serta pendidikan yang terus meningkat.
Kualitas hidup yang seharusnya diperoleh oleh kelas menengah kini menjadi hal yang penuh tantangan. Sering kali, harapan untuk mencapai stabilitas ekonomi berubah menjadi kenyataan yang menyakitkan, di mana semakin banyak individu merasa terjebak dalam siklus kerja keras tanpa hasil yang memuaskan.
Dengan semua tantangan ini, penting untuk menemukan solusi, baik melalui kebijakan pemerintah maupun perubahan dalam perilaku konsumen. Upaya ini bisa membantu kelas menengah untuk kembali mendapatkan kesempatan yang lebih baik di masa depan.















