Ancaman wabah African Swine Fever (ASF) menjadi masalah signifikan yang harus dihadapi oleh industri peternakan babi di Indonesia. Sejak kedatangannya di Tanah Air pada tahun 2019, ASF telah menimbulkan kerugian besar bagi para peternak. Angka kematian babi yang tinggi serta menurunnya kepercayaan konsumen atas produk babi meningkatkan urgensi penanganan wabah ini.
Berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini telah dilakukan, namun kewaspadaan tetap menjadi kunci penting dalam mencegah penyebaran ASF. Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, terus berupaya untuk menerapkan langkah-langkah yang efektif dan tepat dalam menjaga kesehatan populasi babi.
Direktur Jenderal PKH Kementerian Pertanian, drh. Hendra Wibawa, M.Si., Ph.D., menekankan bahwa biosekuriti dan vaksinasi adalah dua aspek yang paling penting dalam menghadapi ancaman ASF. Hal ini disampaikan dalam sebuah acara yang membahas intervensi program biosekuriti terkait ASF pada tanggal 17 Desember 2025.
Pentingnya Biosekuriti dalam Pengendalian ASF di Peternakan Babi
Salah satu langkah utama dalam pengendalian ASF adalah penerapan sistem biosekuriti yang ketat. Langkah ini penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kandang agar tetap aman dari infeksi penyakit. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, peternak dapat secara signifikan mengurangi risiko terjadinya wabah.
Selain itu, vaksinasi juga menjadi senjata ampuh dalam menanggulangi penyebaran ASF. Dengan adanya vaksin yang efektif, harapan untuk melindungi babi dari infeksi semakin meningkat. Para peternak diharapkan lebih sadar akan perlunya tindakan preventif demi menjamin keberlangsungan bisnis mereka.
Direktur Jenderal PKH mencatat bahwa biosekuriti dan vaksinasi adalah dua pilar yang tak terpisahkan. “Setiap peternak harus paham tentang pentingnya menjaga sanitasi dan melakukan vaksinasi secara rutin,” ujarnya. Kebijakan ini bukan hanya untuk melindungi ternak, tetapi juga untuk menjaga kestabilan ekonomi peternakan babi di Indonesia.
Program CABI dan Dampaknya bagi Peternakan Kecil
Program Community African Swine Fever Biosecurity Interventions (CABI) diluncurkan sebagai bentuk kolaborasi antara pemerintah dan organisasi internasional. Program ini bertujuan memperkuat praktik biosekuriti, khususnya di peternakan babi kecil yang paling rentan. Langkah ini diharapkan dapat menjangkau peternak yang selama ini terabaikan.
Implementasi program CABI sudah terlihat di beberapa wilayah, seperti Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Melalui pelatihan dan pendampingan, para peternak dapat menerapkan praktik-praktik biosekuriti yang sesuai. Hal ini dilakukan dengan melibatkan ratusan peternak lokal yang menjadi target program.
Rajendra Aryal, wakil FAO untuk Indonesia, menjelaskan bahwa dampak program ini sangat nyata. Dengan memfokuskan pada pencegahan dan pemulihan dari penyakit ASF, program ini memberikan harapan baru bagi komunitas peternak. Intervensi ini tidak hanya memprioritaskan aspek teknis tetapi juga memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Peran Komunitas dalam Mengatasi Wabah ASF
Pentingnya peran komunitas dalam penanganan ASF tidak bisa dianggap remeh. Komunitas peternak diharapkan untuk bersatu dalam menghadapi tantangan yang ada. Ketika peternak berkolaborasi, mereka dapat saling berbagi informasi dan praktik baik dalam menjaga biosekuriti di peternakan mereka.
Program edukasi mengenai penyakit ASF, serta tindakan pencegahan yang harus dilakukan, menjadi fokus utama. Dengan cara ini, peternak akan lebih siap dan waspada terhadap wabah yang bisa datang kapan saja. Selain itu, saling berbagi pengalaman di antara peternak akan memperkuat ketahanan mereka.
Dengan membangun jaringan komunikasi yang baik, peternak dapat mempercepat proses penanganan jika wabah terjadi. Ini adalah langkah strategis yang sangat dibutuhkan agar dampak dari wabah ASF bisa diminimalkan, menjaga kesehatan ternak dan ekonomi keluarga peternak.
















