Mudah marah saat lapar bukan hanya sekadar emosi sesaat, namun merupakan fenomena yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa rasa lapar dapat memengaruhi suasana hati dan perilaku seseorang dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari.
Menurut Noah Kass, seorang psikoterapis berpengalaman di New York, ketika perut kosong, individu sering kesulitan mengelola emosi dan membuat keputusan yang rasional. Proses ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat berdampak pada hubungan sosial dengan orang-orang di sekitar.
Rasa lapar memengaruhi tubuh dan otak melalui serangkaian perubahan biologis yang langsung berimbas pada suasana hati seseorang. Dalam keadaan lapar, otak membutuhkan glukosa sebagai energi primer agar dapat berfungsi secara optimal dan tetap fokus.
Dampak Kekurangan Energi Terhadap Suasana Hati
Ketika seseorang tidak memenuhi kebutuhan makan dalam waktu lama, kadar gula darah mereka akan menurun drastis. Penurunan ini menyebabkan otak tidak mendapatkan cukup energi, yang berpotensi mengubah suasana hati menjadi lebih negatif.
Pada saat tubuh merasa kenyang, keseimbangan glukosa dan hormon terjaga, yang berimplikasi pada stabilitas emosional. Dalam kondisi ini, individu cenderung merasa lebih tenang dan dapat mengontrol emosi dengan lebih baik.
Jika kadar gula darah turun, kemampuan otak untuk berfungsi optimal juga terganggu. Ini sering kali membuat seseorang menjadi mudah tersinggung, susah berkonsentrasi, dan lebih cenderung bertindak impulsif.
Proses Bertahan Hidup Otak Dalam Kondisi Lapar
Otak sebenarnya akan beradaptasi dengan kondisi lapar dan memasuki modus bertahan hidup. Dalam konteks ini, otak akan memprioritaskan kebutuhan untuk mencari makanan guna memenuhi kebutuhan energi.
Pakar saraf Camilla Nord, yang merupakan Direktur Laboratorium di University of Cambridge, menambahkan bahwa otak terus-menerus memantau kondisi internal tubuh. Proses ini, yang dikenal sebagai interosepsi, memainkan peran penting dalam membantu manusia bertahan hidup, salah satunya dengan mendeteksi rasa lapar.
Rasa lapar juga membawa pengaruh fisiologis tambahan, termasuk perubahan emosional dan tingkat stres yang meningkat akibat tubuh keluar dari kondisi seimbang atau homeostasis. Hal ini menunjukkan betapa kompleks dan pentingnya hubungan antara kebutuhan fisik dan kesehatan mental.
Keterkaitan Rasa Lapar Dengan Stres Emosional
Rasa lapar dapat memicu berbagai respons emosional yang tidak selalu menguntungkan. Ketika seseorang merasa lapar, tingkat stress dan kerentanan terhadap emosi negatif meningkat, yang dapat mempengaruhi interaksi sosial.
Studi menunjukkan bahwa orang yang kurang makan cenderung lebih reaktif dan rentan terhadap konflik. Respons emosional yang terganggu ini dapat mengarah pada kesalahpahaman dalam hubungan personal maupun profesional.
Penting untuk menyadari bahwa suasana hati yang buruk saat lapar bisa diatasi dengan pola makan yang teratur. Dengan menjaga pola makan yang seimbang, seseorang dapat membantu mengurangi neurosis yang terkait dengan rasa lapar.
Strategi Mengelola Emosi Saat Merasa Lapar
Salah satu cara untuk mengelola emosi ketika lapar adalah dengan menerapkan pola makan yang terjadwal. Dengan memiliki waktu makan yang teratur, otak dapat lebih mudah memprediksi kapan mendapatkan asupan energi, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya ‘craving’ yang berlebihan.
Penting juga untuk mengenali sinyal tubuh sendiri. Memahami kapan diri kita benar-benar lapar versus sekadar ingin makan dapat membantu menurunkan tingkat stres dan konflik batin. Dengan cara ini, individu bisa membuat keputusan yang lebih baik mengenai pola makan mereka.
Saat merasa lapar, cobalah untuk mengonsumsi makanan sehat yang kaya nutrisi. Mengisi perut dengan makanan bergizi dapat membantu menjaga kestabilan emosional dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.














