Perang harga mobil listrik di China semakin memanas. Di awal tahun 2026, kondisi ini hadir dengan diskon besar dan penawaran cicilan ringan yang tak terhindarkan, meskipun pemerintah sudah meminta agar persaingan harga dikendalikan.
Penurunan penjualan mobil listrik menjadi faktor utama di balik semua ini. Pasar yang awalnya berkembang sangat cepat kini menunjukkan tanda-tanda stagnasi, sehingga para produsen merasa tertekan untuk menurunkan harga agar tetap mempertahankan penjualan.
Salah satu contoh nyata dari fenomena ini adalah BMW. Pabrikan asal Jerman tersebut menerapkan pemotongan harga drastis pada sedan listrik mewah mereka, BMW i7 M70L, hingga lebih dari 300 ribu yuan, yang setara dengan sekitar Rp 720 juta.
Penyebab Utama Perang Harga di Pasar Mobil Listrik
Penyebab utama terjadinya perang harga ini adalah melambatnya pertumbuhan penjualan mobil listrik di pasar. Meskipun angka penjualannya masih signifikan, laju pertumbuhannya tidak secepat beberapa tahun sebelumnya.
Sejak pergeseran ke mobil listrik, banyak konsumen yang mengharapkan inovasi dan harga yang lebih terjangkau. Keberagaman model mobil listrik yang ditawarkan juga semakin meningkat, tetapi hal ini tak diimbangi dengan pertumbuhan penjualan yang pesat.
Para analis mengantisipasi bahwa perang harga ini tidak akan mereda dalam waktu dekat. Prediksi menunjukkan bahwa mungkin satu hingga dua tahun ke depan, persaingan harga akan tetap ketat.
Strategi Pabrikan Menghadapi Perang Harga
BMW tidak sendirian dalam menerapkan strategi pemotongan harga. Pabrikan lain, termasuk yang terkenal dengan produk premium, juga ikut merespons dengan mengurangi harga produk mereka.
Selain pemotongan harga, pabrikan juga menawarkan cicilan super ringan dan program promo menarik. Semua langkah ini diambil untuk menarik perhatian konsumen yang semakin selektif dalam memilih mobil listrik.
Data menunjukkan bahwa bahkan pabrikan yang bukan hanya fokus pada otomotif seperti Xiaomi kini terjun ke pasar mobil listrik. Dengan SUV listrik perdananya, Xiaomi YU7, mereka menawarkan cicilan 0 persen selama tiga tahun.
Dampak terhadap Konsumen dan Pabrikan
Situasi ini memberikan keuntungan bagi konsumen karena mereka kini dapat membeli mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Diversifikasi model yang ditawarkan juga semakin beragam, membuat pilihan konsumen semakin luas.
Namun, bagi pabrikan, kondisi ini bisa menjadi bumerang. Meskipun angka penjualan meningkat, keuntungan mereka bisa tertekan akibat strategi pemotongan harga yang agresif.
Dengan banyaknya produk yang diluncurkan, persaingan semakin ketat dan setiap pabrikan berusaha untuk mendapatkan segmen pasar yang lebih besar.
Secara keseluruhan, meski ini adalah waktu yang menggembirakan bagi konsumen, tantangan bagi pabrikan akan semakin besar seiring dengan berlanjutnya tekanan untuk menjaga harga tetap kompetitif.















