Nama Lengkap: Pierre Andries Tendean.
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 21 Februari 1939.
Pendidikan Militer: Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) Bandung, Angkatan 1958.
Pangkat Terakhir: Kapten Czi (Anumerta).
Jabatan Terakhir: Ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan / Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab).
Orang Tua: Dr. A.L. Tendean dan Maria Elizabeth Cornet.
Tanda Kehormatan: Pahlawan Revolusi (SK Presiden No. 111/KOTI/1965).
Tanggal Wafat: 1 Oktober 1965 di Lubang Buaya, Jakarta.
Pierre Andries Tendean, sosok yang diingat sebagai salah satu Pahlawan Revolusi, lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Dia adalah figur penting dalam sejarah militer Indonesia yang dikenal karena dedikasinya dan pengorbanannya.
Sebagai seorang lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat, Tendean menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang kepemimpinan dan strategi. Karir militernya mengantarkannya pada posisi yang signifikan dalam struktur pemerintahan, terutama dalam hal pertahanan.
Perjalanan Hidup Pierre Tendean yang Menginspirasi
Pierre Tendean berasal dari keluarga yang mendorong pendidikan dan disiplin. Ayahnya, Dr. A.L. Tendean, adalah seorang dokter terkemuka, sementara ibunya, Maria Elizabeth Cornet, memberikan dukungan emosional yang kuat sepanjang hidupnya.
Kehidupan awalnya di Jakarta sangat dipengaruhi oleh suasana politik yang dinamis pada masa itu. Tendean tumbuh dalam lingkungan yang menyaksikan pergolakan sosial dan politik yang mempengaruhi arah negara.
Pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat membuatnya siap menghadapi tantangan yang akan datang. Beliau lulus pada tahun 1958 dan segera mulai membangun kariernya di militer.
Pengabdian Militer dan Karier Terakhir
Kepiawaian Tendean di bidang militer membawanya kepada posisi strategis sebagai ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan. Posisinya memberikan dia kesempatan untuk terlibat langsung dalam berbagai keputusan penting yang menyangkut keamanan negara.
Selama karirnya, Tendean dikenal sebagai sosok yang disiplin dan sangat menghargai waktu. Dia memiliki prinsip dan nilai yang sangat kuat, yang memandu setiap tindakan dan keputusan yang diambilnya.
Sebelum tragedi yang menimpanya, Tendean aktif terlibat dalam berbagai operasi penting. Ia dikenal dekat dengan para pemimpin militer lainnya, termasuk Jenderal Nasution, yang sering dijadikannya sebagai panutan.
Tragedi dan Warisan Seorang Pahlawan
Tragedi yang menimpa Pierre Tendean terjadi pada 1 Oktober 1965. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik kelam dalam sejarah bangsa Indonesia ketika banyak tokoh militer dan pemerintah dibunuh. Ia ditangkap dan dibunuh di Lubang Buaya, Jakarta.
Setelah wafatnya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi, sebuah penghargaan yang sangat penting diberikan oleh negara. Hal ini menunjukkan betapa menghargainya bangsa terhadap pengorbanan dan dedikasi yang telah ditunjukkannya.
Warisan Tendean tidak hanya terletak pada heroismenya tetapi juga pada nilai-nilai yang ia pegang. Hingga kini, banyak orang mengingatnya sebagai simbol keberanian dan komitmen untuk melindungi bangsa.















